Lokomotif As’adiyah Gerbong Cakkeware, Kajuara-Cenrana

6 hours ago 2

Sebuah Obituari : Mengenang Berpulangnya H. Mustafa H. Taggala

Oleh: Mustadin Taggala

“Abba, ini kitab tanwirul qulub, fathul mu’in, kifayatul akhyar saya lihat ada semua, kitab Tafsir Jalalain di mana kok Abba gak punya?”

Oh .. napakei Abu Nawas mappangaji.. (dipakai Abu Nawas mengajar).

Begitu Abba menjawab sekenanya.

Abu Nawas yang Abba sampaikan ini ialah Kepala Madrasah Aliyah, seorang Kyai Ponpes As’adiyah yang sangat disegani murid-muridnya dan diperhitungkan oleh Kyai-kyai seangkatannya saat itu. Disisi lain AG KH Abunawas Bintang sebenarnya keponakan Abba sendiri karena Alm. H. Bintang sepupu Abba dari keturunan Unra-Kajuara Awangpone.

Saya tentu melongo mendengar jawaban itu, karena saya tau betul orang yang dimaksud, beliau setiap minggu menyampaikan kajian tafsir dan kitab lainnya di hadapan para santri yang setia mendengar dan mencatat setiap ucapan dari sang kyai.

“Siapa ya beliau ini? Kok sampai sekelas Kyai Haji Abunawas Bintang meminjam kitabnya”

Tanpa perasaan apapun saya melanjutkan bertanya, “kenapa Pak Abunawas minjam kitab Abba? Kan bisa beli, besok diminta aja ya Ba, kan saya mau pakai juga.”

Iyaa sudah saya minta tapi beliau bilang “nanti puang aji, saya masih pakai”

Lho kenapa masih pakai? Timpal saya.

Iya karena kitab saya lengkap catatan pinggirnya saat belajar dulu dengan gurutta Yunus Maratang.

Catatan pinggir di sini dalam tradisi mengaji kitab menjadi catatan yang sangat penting karena catatan tersebut berisi penjelasan detail akan makna-makna yang terkandung dalam tulisan kitab yang dibahas setiap kata.

Oh yaa?

Hanya kata itu yang keluar dari mulut saya tapi dalam hati sungguh banyak pertanyaan yang segera ingin disampaikan tapi masih ragu bertanya mulai dari mana.

Mulai dari pertanyaan, seberapa detil catatan abba dalam kitab itu? Dulu abba belajarnya di as’adiyah seperti apa? Sampai pertanyaan siapa Abba ini sebenarnya kok sampai kitabnya aja digunakan oleh seorang kyai pesantren yang cukup disegani.

“Ah sudahlah nanti juga terurai, batinku”

Pertanyaan itu saya lontarkan kepada Abbaku saat awal-awal menapaki hari-hari di pondok pesantren As’adiyah dan selanjutnya menjadi seri-seri mendengarkan cerita bagaimana Abba dulu di pondok pesantren As’adiyah saat beliau mengenyam pendidikan saat-saat masa transisi dari AG Kyai Haji Muh As’ad ke AG Kyai Haji Yunus Maratang pada tahun 40an.

Abba pada sekitar tahun 1940an menapaki jalan belajar pada seorang guru di kampung bernama H. Beddu Safa di cakkeware Kecamatan Cenrana. H. Beddu Safa ini ialah sepupu Abba sendiri dan banyak di kenal di Sul-Sel. H. Beddu Safa sendiri memiliki beberapa anak diantaranya Ustadz Harisa (Pendiri dan Pimpinan Pondok Annahdlah Makassar), termasuk Prof Badruddin Ketua PWNU Sul-Sel saat ini.

Pada Ustadz Beddu Safa inilah Abba pertama kali belajar ilmu alat (Nahwu dan Sarof) termasuk belajar Fiqhi dasar menggunakan kitab safinatunnajah dan berbagai ilmu pesantren lainnya.

Abba sehari-hari menjadi pattetteng (orang yang mengurusi semua hal terkait kebutuhan sang kyai) kalau dalam istilah yang dikenal masyarakat Jawa disebut Khodim Dalem saat belajar di rumah Ustadz Beddu Safa.

Kelak Abba pertama kali menikah dengan Alm. Hj. Buheriah keponakan Ustadz H. Beddu Safa sendiri.

Karena sudah hampir lebih 2 tahun ikut dengan Ustad Beddu Safa, Abba meminta izin untuk melanjutkan sekolah ke As’adiyah sengkang. Akan tetapi keinginan tersebut ditolak oleh sang ustadz dengan alasan “toh yang dipelajari di Sengkang sama aja yang dipelajari di Cakkeware tersebut”.

Karena keinginan yang kuat untuk melanjutkan belajar ke As’adiyah Sengkang, Abba mencoba “berbohong” bahwa Abba diminta pamannya di kampung yang sama (Cakkeware) untuk tinggal bersamanya, hal itu dilakukan agar Abba tidak lagi tinggal bersama Ustad Beddu Safa, walaupun saat tidak tinggal bersama itu Abba sehari-hari tetap ikut belajar, dengan begitu kelak jika waktunya sudah pas Abba bisa dengan leluasa berangkat ke As’adiyah Sengkang untuk melanjutkan sekolahnya.

Pada hari yang tepat, akhirnya Abba ke Sengkang untuk melanjutkan sekolahnya. Pada saat itu sistem penerimaan santri di Sengkang menggunakan sistem seleksi kemampuan dasar-dasar agama, salah satu tesnya yakni meng-i’rab kata atau kalimat yang disodorkan oleh penguji.

Karena sudah belajar dengan baik dari Ustadz Beddu Safa, Abba dengan sangat mudah menjawab soal-soal yang diberikan. Dan karena kemampuannya tersebut Abba tidak perlu memulai dari kelas 3 ibtidaiyyah (sederajat SD) akan tetapi langsung kelas 5 dimana teman-teman yag lainnya harus mulai dari kelas 3.

Saat meniti jalan sekolah tersebut menjadi tidak hanya berhenti pada Abba sendiri tetapi juga diikuti langsung generasi dari Cakkeware, Kajuara, Cenrana dan sekitarnya untuk sekolah di As’adiyah, sepupu dan ponakannya yang ikut antara lain Alm. H. Muh Nur (lebih dikenal Ustadz ma’ Nurung; pernah menjadi kepala sekolah ibtidaiyyah mesjid jami sengkang), Alm. H. Amiruddin HT, Ustadz Harisa (pendiri Pondok Pesantren Annahdlah Makassar) serta beberapa yang lainnya baik sepupu atau yang keluarga jauh lainnya.

Upaya membuka jalan ini menjadi wasilah penerang junior-juniornya yang juga masih keluarga dekatnya seperti alm. AG K.H Abunawas Bintang, Alm. AG. Jamal, Alm. Ustadz Kanna (Cakkeware) dan banyak lagi generasi-generasi se-zamannya yang meniti jalan ilmu ke As’adiyah.

Menjadi Guru Di Ponpes As’adiyah Pusat

Setelah lulus Tsanawiyah, Abba kemudian diminta oleh AG Yunus Maratan untuk tetap menjadi guru di As’adiyah, kebetulan mata pelajaran yang diajarkan tidak begitu terang jenisnya, akan tetapi saya sebagai murid dari teman seangkatan Abba yakni alm. AG. Abdul Gani sering menyampaikan kepada saya bahwa “kami dulu diajari Abbamu nahwu-sarof” dan selalu diikuti “kamu pasti pintar Nahwu-Sarof karena Abbamu dulu yang ngajarin kami Nahwu-Sharof”. Dengan dasar ini, saya meyakini Abba mengajar Nahwu-Sharof tersebut.

Saat mengajar, Abba kemudian juga melanjutkan sekolah di Madrasah Aliyah di Ponpes yang sama. Akan tetapi Abba harus bolak balik ke Desa Taa Kecamatan Cenrana karena harus mengajar Agama di sana. Abba sebenarya menolak karena ingin konsentrasi menyelesaikan sekolah Aliyah dan tetap mengajar di pondok As’adiyah. Akan tetapi karena perintah AG Yunus Maratang membuat Abba tidak bisa menolak permintaan menjadi PNS di Desa Taa tersebut.

Kuliah Ke Jogja yang tak terwujud

Saya pernah berpikir, kenapa saya sampai kuliah ke Jogja? Ternyata dibelakang hari saya medapat cerita bahwa Abba pernah akan kuliah ke Jogja tapi diurungkan karena merasa tidak percaya diri dengan kemampuan bahasa Indonesianya yang terbatas.

Bisa jadi karena wasilah tersebut akhirnya saya merampungkan kuliah S1-S3 di Yogyakarta. Bisa jadi.

Suatu hari sahabat sekelas Abba yang bernama AG Sagena (Ketua Umum PP As’adiyah tahun 2018-2022) mengajak Abba bersama-sama berangkat ke Jogja untuk kuliah, karena beberapa orang teman angkatan mendapatkan tawaran kuliah ke Yogyakarta saat itu.

Akan tetapi saat itu memang Abba menolak, selain karena sudah mendapatkan perintah dari AG. Yunus Maratang untuk mengajar dengan status PNS, lagi-lagi Abba tidak cukup percaya diri dengan kemampuan bahasanya. Saat itu Abba menjawab ajakan AG. Sagena dengan kalimat “dee wissengngi mabbahasa Indonesia, Bahasa Ugi na bahasa Ara’ bawang uwisseng, ikona bawang lokka’: saya tidak bisa bahasa Indonesia, hanya bahasa Bugis dan Arab yang saya tahu, kamu sajalah yang pergi”.

Menghabiskan Hidup untuk As’adiyah

Abba selain menjadi Guru Agama Islam di Kecamatan Cenrana, Abba setiap sore tetap mengajar sekolah Arab (sekolah Ibtidaiyyah, yang setara dengan SD akan tetapi berbahasa Arab). Abba menghabiskan sisa waktunya sebagai PNS dengan mengajar di Madrasah As’adiyah 3 Cabang Cenrana.

Di sekolah ini saya sering berpikir sewaktu masih kecil, bagaimana cara Abba bisa bahasa Arab ya? Pertanyaan ini kemudian terjawab dengan informasi rangkaian cerita panjang diatas.

Karena beliau sangat mencintai Ilmu Agama, sebagai anaknya tentu mendapatkan pressure yang tidak ringan, Abba hampir setiap hari berbahasa Arab kepada saya, dan memaksa saya untuk mebaca, memahami dan menghafal Matan Al-Jurumiyyah (Matan Al-Jurumiyyah adalah kitab dasar tata bahasa Arab (ilmu nahwu) karya Imam Ash-Shanhaji yang memuat teori-teori pokok gramatika, mencakup pembahasan kalam (kalimat), i’rab (perubahan akhir kata), fi’il(kata kerja), hingga isim-isim yang marfu’, manshub, dan makhfudh. Kitab ini populer di pesantren sebagai panduan awal membaca kitab kuning).

Selain itu Abba meminta saya untuk menghafal dal Kitab Al-barazanji (Kitab Al-Barzanji atau Mawlid al-Barzanji adalah salah satu karya sastra keagamaan paling populer di dunia Islam yang berisi doa-doa, puji-pujian, dan narasi sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW).

Saya merasa Abba menempatkan Kitab Al-Barzanji ini seperti kitab kedua setelah Al-Qur’an yang harus selalu dibaca dan dianjurkan untuk dihapalkan.

Tradisi-tradisi keilmuan sungguh terasa sekali bagi saya, Abba menempatkan seluruh urusan apapun dibawah urusan menuntut ilmu, Abba selalu mengajarkan bahwa sekolah tidak boleh dikalahkan oleh urusan apapun, mau itu urusan pernikahan saudara, urusan saudara meninggal dan berbagai urusan yang mungkin menurut orang lain lebih penting dari sekedar berangkat sekolah.

Bagi Abba, sekolah itu urusan nomor satu dari semua urusan. Beberapa kali saya merasakan kecewa karena ingin turut hadir di pesta pernikahan saudara baik dari keluarga Abba maupun keluarga Ibu, akan tetapi harus menelan ludah karena Abba melarang dan sering dengan ucapan “acara itu akan berjalan tanpa ada kamu, tapi pelajaran akan tertinggal jika kami tidak hadir”.

Mungkin nilai inilah yang membentuk saya menjadi orang yang gemar sekali sekolah, walapun banyak persoalan dan rintangan dalam bersekolah. Akan tetapi semangat untuk terus sekolah berhasil Abba tanam dalam diri saya.

Ini juga saya wariskan ke anak-anak saya, bawa tidak ada urusan yang lebih penting selain sekolah. Mungkin Abba menggunakan kaidah mendahulukan wajib daripada urusan sunnah
الْفَرْضُ أَفْضَلُ مِنَ النَّفَل
(Wajib lebih utama dari yang sunnah).

Saya juga menebak, Abba memegang teguh hadits

‎(طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ)

sebuah hadits shahih yang berarti “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim”.

Abba Berpulang

Tanggal 4 Februari 2026 pukul 15.30 WITA Abba berpulang ke Rahmatullah.

Abba dipanggil kembali oleh Allah SWT dalam usia 93 tahun. Kami yang ditinggalkan tentu berduka dan bersedih, akan tetapi dalam hati kami yang paling dalam tetap berbangga hati, diusianya yang cukup panjang, Abba selalu menjaga sikap sebagai seorang santri yang juga kyai kampung yang sepanjang karir mengajarnya bahkan 10 tahun setelah pensiun masih aktif mengajar di Madrasah As’adiyah Cenrana, mengajar anak-anak kampung membaca Al-Qur’an, Abba tidak pernah meninggalkan sholat berjamaah dimesjid, tidak pernah meninggalkan sholat tahajjud sepanjang hidupnya sejak usia remaja, Sholat Dhuha juga tak pernah putus dan sangat gigih menyekolahkan anak-anaknya dalam berbagai keterbatasan.

Saya yakin Abba tidak mati, tapi Abba sedang diperjalankan menuju Syurga sang Khalik.

Selamat Jalan Abba.

Ijinkan Anak-anakmu meniti jalan ibadah diberbagai bidang, agar amal Abba tak pernah putus karena berbagai amalan yang kami lakukan.

Lahulfaatihah.

Kami yang Berduka:

Anak-Anak:

  1. Nurhan H. Mustafa
  2. Hj. Dewi Yastin
  3. Musfirati
  4. Ilma Mustafa
  5. Mustadin Taggala
  6. Mustahyun Taggala

Menantu:

  1. Arwing
  2. ⁠Edy
  3. ⁠Fidaus
  4. ⁠Ayu Rahmawati
  5. ⁠Kuswalandari Putri

Cucu-cucu:

  1. Ummul waafiah
  2. ⁠adeknya ummu
  3. Ansar
  4. ⁠Fadli
  5. ⁠Ridwan
  6. ⁠Afdal Aryas
  7. ⁠Bimantara Aryas
  8. ⁠Callang
  9. ⁠Dilli
  10. ⁠Kiandra
  11. ⁠Fiqhi
  12. ⁠Khalif M Taggala
  13. ⁠Khaizan M Taggala
  14. ⁠Khadafi M Taggala
  15. ⁠Khaleed M Taggala
  16. ⁠Khahyang Ayunda M Taggala

Cicit:

  1. Anaknya Ummu
Read Entire Article
Analisa | Local | Menit Info | |