Menit.co.id – Dalam Islam, niat memegang peranan krusial sebagai penentu sah atau tidaknya setiap ibadah. Rasulullah SAW bersabda, “innamal a’maalu bin niyaati,” yang berarti semua amal tergantung pada niatnya.
Hal ini berlaku pula untuk puasa Ramadhan, di mana ketulusan hati dan kesadaran spiritual membedakan sekadar menahan lapar dan haus dengan ibadah penghambaan diri yang sesungguhnya.
Puasa Ramadhan menuntut umat Islam untuk memantapkan niat sebelum fajar, sesuai hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dan Tirmidzi. Tanpa niat, ibadah fisik menahan lapar dan haus tidak sah. Niat puasa Ramadhan sebulan penuh bukan hanya sekadar formalitas, tetapi juga pengingat spiritual agar setiap detik puasa bernilai pahala.
Waktu niat puasa wajib seperti Ramadhan sangat spesifik, yaitu pada malam hari mulai setelah salat Isya hingga sebelum masuknya waktu Subuh. Ada dua pandangan utama terkait frekuensi niat:
1. Mazhab Syafi’i (Mayoritas):
Mewajibkan pembaruan niat setiap malam, karena setiap hari puasa dianggap ibadah mandiri yang membutuhkan niat baru.
2. Mazhab Maliki:
Memberikan kemudahan dengan niat satu kali di awal bulan untuk sebulan penuh, sebagai jaring pengaman bagi yang lupa berniat di malam-malam berikutnya.
Sebagai langkah kehati-hatian, umat Islam di Indonesia umumnya menggabungkan kedua pandangan ini: berniat puasa Ramadhan sebulan penuh di malam pertama sekaligus membiasakan melafalkan niat setiap malam saat sahur atau setelah salat Tarawih.
Secara teknis, niat dilakukan di dalam hati, tetapi melafalkannya dengan lisan (talaffuz) dianjurkan untuk memperkuat fokus dan tekad. Lafaz niat harian:
Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardhi syahri Ramadhana hadzihis sanati lillahi ta’ala
Artinya: “Aku berniat puasa esok hari untuk menunaikan kewajiban Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala.”
Sedangkan lafaz niat puasa sebulan penuh:
Nawaitu shauma jami’i syahri Ramadhana hadzihis sanati fardhan lillahi ta’ala
Artinya: “Aku berniat puasa di sepanjang bulan Ramadhan tahun ini, wajib karena Allah Ta’ala.”
Islam menekankan niat karena ia menjaga kesadaran dan keikhlasan. Tanpa niat, puasa hanya menjadi rutinitas yang melelahkan. Dengan niat yang tulus, setiap haus dan lapar menjadi sarana pahala. Niat juga mengingatkan tujuan berpuasa bukan sekadar kesehatan atau tradisi, melainkan murni untuk meraih ridha Allah.
Memahami waktu, kedudukan, dan cara berniat adalah langkah awal agar ibadah puasa berkualitas. Perbedaan pendapat ulama terkait niat sebaiknya dipandang sebagai rahmat yang memudahkan umat. Dengan kemantapan hati sejak malam hari, puasa yang dijalani tidak hanya sah secara fikih, tetapi juga diterima sebagai amal saleh penuh berkah. Mari optimalkan ibadah Ramadhan dengan senantiasa memperbarui niat puasa Ramadhan sebulan penuh agar setiap langkah kita bernilai di hadapan Allah.
Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

20 hours ago
6

















































