Menit.co.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan akan mengkaji kebijakan setop ekspor timah dan beberapa komoditas mentah lainnya.
Menurut Bahlil, penghentian ekspor bahan mentah perlu digantikan dengan produk hasil hilirisasi di dalam negeri agar nilai tambah komoditas bisa dinikmati masyarakat dan memperkuat struktur ekonomi nasional.
“Tahun lalu kita melarang ekspor bauksit. Tahun depan, kita akan mengkaji beberapa komoditas lain, termasuk timah,” ujar Bahlil dalam keterangan tertulis, Minggu (15/2/2026).
Bahlil mencontohkan pelarangan ekspor bijih nikel pada 2018-2019 yang terbukti berhasil. Total ekspor nikel meningkat hingga sepuluh kali lipat pada periode 2023-2024.
“Total ekspor nikel kita tahun 2018-2019 hanya US$ 3,3 miliar. Setelah larangan ekspor, pada 2024 sudah mencapai US$ 34 miliar. Ini dorongan pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, dan distribusi keuntungan lebih merata,” ungkapnya.
Dorongan Hilirisasi di Dalam Negeri
Daripada mengekspor barang mentah, Bahlil mendorong pelaku usaha membangun fasilitas hilirisasi domestik. Langkah ini bertujuan agar komoditas mineral menghasilkan nilai tambah yang dapat dinikmati masyarakat lokal.
“Silakan membangun investasi hilirisasi di dalam negeri,” sambungnya.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menetapkan 18 proyek hilirisasi sebagai prioritas nasional 2026 dengan nilai investasi mencapai Rp 618 triliun. Proyek ini mencakup sektor strategis mulai dari bauksit, nikel, gasifikasi batubara, hingga kilang minyak, dan ditargetkan mulai berjalan tahun ini.
Produk hilirisasi ini diharapkan mampu menggantikan barang impor. Bahlil juga mengajak investor nasional, termasuk sektor perbankan, untuk menyuntikkan modal ke proyek-proyek strategis ini.
“Semua produknya untuk substitusi impor. Ini captive market dalam negeri. Kesempatan perbankan untuk membiayai, jangan sampai hilirisasi hanya memberi nilai tambah bagi pihak luar,” tegasnya.
Proyeksi Investasi dan Dampak Ekonomi
Hingga 2040, program hilirisasi di berbagai sektor diprediksi mendatangkan investasi US$ 618 miliar. Dari jumlah itu, US$ 498,4 miliar berasal dari subsektor mineral dan batubara, sementara US$ 68,3 miliar dari minyak dan gas bumi.
Hilirisasi juga diperkirakan menghasilkan ekspor US$ 857,9 miliar, kontribusi Pendapatan Domestik Bruto (PDB) US$ 235,9 miliar, serta menyerap lebih dari 3 juta tenaga kerja. Kebijakan ini sekaligus menegaskan urgensi setop ekspor timah sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

14 hours ago
6

















































