Menit.co.id – Pernah mencoba menggunakan Google Translate dan menemukan bahwa terkadang layanan ini “menjawab” alih-alih hanya menerjemahkan?
Fenomena ini terjadi karena integrasi kecerdasan buatan yang menafsirkan sebagian teks sebagai instruksi, bukan sekadar kata-kata yang perlu diterjemahkan.
Awalnya, Google Translate dirancang untuk satu tujuan sederhana: pengguna memasukkan teks, kemudian menerima terjemahan ke bahasa yang dipilih.
Namun, dengan hadirnya AI di mode terbaru, perilakunya menjadi lebih dinamis dan kadang tidak terduga. Beberapa pengguna melaporkan bahwa mode lanjutan ini dapat melampaui fungsi standar dan merespons pertanyaan layaknya chatbot.
Unggahan di jejaring sosial X menunjukkan bahwa Google Translate dapat menanggapi pertanyaan langsung.
Misalnya, ketika ditanya “Apa tujuan Anda?”, layanan memberikan penjelasan fungsinya sendiri daripada menerjemahkan frasa tersebut.
Hal ini terjadi ketika teks ditulis dalam bahasa target, sehingga sistem menafsirkannya sebagai perintah untuk memberikan respons.
Dalam beberapa kondisi, penerjemah mulai berperilaku seperti asisten digital, menanggapi permintaan pengguna dengan jawaban bermakna, berbeda dari logika penerjemahan tradisional.
Penyebab Kemunculan Respons Non-Terjemahan
Para peneliti di platform LessWrong menjelaskan fenomena ini sebagai contoh dari “injeksi prompt”.
Untuk melakukan terjemahan dengan tepat, sistem terlebih dahulu menganalisis teks dan memproses maknanya. Selama proses ini, instruksi tersembunyi dalam teks dapat diartikan sebagai perintah yang harus dieksekusi.
Menurut analisis tersebut, Google Translate kemungkinan menggunakan model bahasa berbasis instruksi.
Namun, mekanisme pembatasan agar hanya menerjemahkan teks tidak selalu sempurna dalam membedakan antara teks yang perlu diterjemahkan dan yang harus ditanggapi sebagai pertanyaan. Akibatnya, sistem terkadang merespons pertanyaan atau mengeksekusi instruksi tambahan.
Kondisi Terjadinya Perilaku Ini
Pengamatan pengguna menunjukkan bahwa fenomena ini hanya muncul pada kombinasi bahasa dan kondisi tertentu.
Misalnya, mengganti alamat IP ke Amerika Serikat dan menerjemahkan dari bahasa Jepang atau Cina ke bahasa Inggris dapat memicu respons tambahan. Dalam kasus ini, terjemahan normal tetap muncul, sementara respons pertanyaan ditampilkan dalam tanda kurung siku.
Hingga kini, Google belum memberikan komentar resmi mengenai fenomena tersebut. Tampaknya ini terkait kondisi khusus di mana sistem menafsirkan sebagian teks sebagai instruksi—contoh khas dari “prompt injection,” di mana perintah sengaja disisipkan ke dalam kueri dan model mengeksekusinya, bukan hanya melakukan fungsi terjemahan.
Beberapa pengguna mencatat bahwa Google Translate bahkan dapat memberikan respons deskriptif yang menunjukkan keberadaan model bahasa di balik antarmuka penerjemah, mampu mendukung dialog, dan menanggapi instruksi jika dikenali dalam teks.
Fenomena ini menandai evolusi Google Translate dari sekadar alat terjemahan menjadi platform yang lebih interaktif dan adaptif.
Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

14 hours ago
6

















































