Menit.co.id – Film Rumah Tanpa Cahaya menjadi salah satu tontonan wajib bagi penikmat film yang menghargai cerita emosional dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Film ini menghadirkan kisah kehilangan sosok ibu dengan cara yang jujur, menyentuh, dan mampu membuat penonton larut dalam perasaan setiap karakternya.
Salah satu alasan utama film Rumah Tanpa Cahaya layak ditonton adalah temanya yang sangat relatable. Hampir setiap orang pernah merasakan kehilangan atau takut kehilangan orang yang dicintai.
Film ini berhasil menangkap emosi tersebut secara realistis tanpa berlebihan. Selain itu, kualitas akting para pemeran menjadi daya tarik tersendiri.
Ira Wibowo dan Donny Damara dikenal dengan kemampuan mereka membawakan emosi secara mendalam, dan chemistry keduanya diprediksi bisa membuat penonton ikut terbawa suasana.
Alasan Film Rumah Tanpa Cahaya Layak Masuk Daftar Tontonan
1. Tema yang Dekat dengan Kehidupan
Cerita tentang kehilangan atau rasa takut kehilangan orang tercinta diangkat dengan cara yang sangat natural. Penonton bisa langsung merasakan emosi karakter karena situasinya sangat familiar dalam kehidupan sehari-hari.
2. Akting yang Menguras Emosi
Pemeran utama, Donny Damara dan Ira Wibowo, menghadirkan akting emosional yang kuat. Interaksi mereka di layar mampu membangun koneksi dengan penonton, sehingga kisah keluarga yang diceritakan terasa hidup dan nyata.
3. Pesan Moral yang Dalam
Film Rumah Tanpa Cahaya mengajarkan pentingnya menghargai orang yang kita cintai selagi masih ada. Film ini menyoroti peran ibu dalam keluarga—sosok yang sering dianggap selalu hadir, tapi sebenarnya sangat krusial. Kehilangan ibu memang membuat “rumah” terasa gelap, namun film ini memberi harapan bahwa terang baru selalu mungkin ditemukan meski perlahan.
4. Drama Keluarga Berkualitas
Lebih dari sekadar drama keluarga biasa, film ini menyoroti cinta, kehilangan, dan upaya bangkit dari duka. Dengan cerita menyentuh, jajaran pemeran berpengalaman, dan arahan sutradara yang matang, Film Rumah Tanpa Cahaya layak dinikmati oleh seluruh anggota keluarga.
Konferensi Pers dan Press Screening
Suasana haru mewarnai Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, pada Senin, 9 Februari 2026, saat press screening Film Rumah Tanpa Cahaya.
Film ini merupakan hasil kolaborasi Citra Sinema dan Sinemart, disutradarai oleh Odi Harahap, yang mengajak penonton memahami arti kehilangan dan bagaimana sebuah keluarga harus bertahan saat “cahaya” mereka padam.
Film dijadwalkan tayang di bioskop pada 12 Februari 2026, sepekan sebelum Ramadan, sehingga cocok untuk ditonton dan direnungkan bersama keluarga.
Pemeran utama hadir untuk memperkuat emosi cerita, termasuk Ira Wibowo sebagai Ibu, Donny Damara sebagai Bapak, Ridwan A Ghani sebagai Samsul, Lavicky Nicholas sebagai Azizi, dan Dea Annisa sebagai Alia.
Sinopsis Film Rumah Tanpa Cahaya
Film Rumah Tanpa Cahaya menceritakan sebuah keluarga yang hidup harmonis saat sosok ibu masih ada. Kehadiran Ibu menjadi pusat kehidupan rumah, mengatur segalanya, mulai dari hal kecil seperti posisi remote hingga pakaian anggota keluarga—sesuatu yang sangat dekat dengan keseharian banyak orang.
Namun, kebahagiaan itu berubah drastis saat Ibu meninggal. Rumah yang tadinya terang benderang kini menjadi redup dan kehilangan arah.
Duka mendalam memicu perjuangan sang suami dan kedua anaknya untuk melanjutkan hidup serta mengelola usaha empal gentong keluarga yang sebelumnya laris.
Tanpa sosok ibu sebagai pengatur utama, mereka menghadapi kegagalan demi kegagalan, mulai dari resep yang gagal hingga penipuan.
Konflik internal pun muncul akibat beban duka dan tanggung jawab, namun pada akhirnya film ini menegaskan bahwa meskipun ibu telah tiada, kehadirannya tetap abadi dalam kehidupan keluarga.
Refleksi Sosok Ibu dalam Film
Dalam sesi tanya jawab, Deddy Mizwar yang terlibat dalam pengembangan skenario menekankan bahwa kehadiran seorang ibu sering baru terasa setelah ia tiada. Ketiadaannya meninggalkan ruang kosong di hati anggota keluarga.
“Seorang ibu itu baru terasa kehadirannya setelah tidak ada. Wajar seorang ibu mencintai anak-anaknya, tapi begitu dia pergi, terasa ada yang hilang,” ujar Deddy Mizwar.
Ia juga menambahkan, “Seorang ibu bisa mengurus sepuluh anak, tapi sepuluh anak belum tentu bisa merawat ibunya.”
Sementara itu, Lavicky Nicholas menyebut pesan moral film ini adalah bahwa warisan terbaik orang tua bukan sekadar harta, tetapi keikhlasan dan kasih sayang.
“Film ini membuat kita sadar bahwa warisan orang tua yang paling berharga adalah cinta dan pengorbanan, bukan harta benda,” ujarnya.
Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

13 hours ago
5

















































