Pemadaman Bergilir Picu Risiko Kebakaran di Kalbar

9 hours ago 11
Pemadaman Bergilir Picu Risiko Kebakaran di Kalbar FOTO: DETIK.COM

Menit.co.id – Rentetan musibah amuk si jago merah dilaporkan melanda sejumlah titik di wilayah Kota Pontianak dalam beberapa waktu belakangan ini.

Menanggapi situasi krusial tersebut, Forum Komunikasi (Forkom) Pemadam Kebakaran (Damkar) Swasta Kalimantan Barat memberikan analisis mendalam mengenai korelasi antara stabilitas pasokan energi dan keselamatan lingkungan.

Berdasarkan hasil evaluasi mereka, ketidakstabilan pasokan daya berupa siklus mati dan nyalanya aliran listrik yang tidak menentu disinyalir menjadi katalisator utama yang melipatgandakan potensi bahaya kebakaran di tengah masyarakat.

Sekretaris Forkom Damkar Swasta Kalbar, Eddy Zulkarnaen, mengungkapkan pandangan teoretis dan praktisnya yang didasarkan pada rekam jejak empiris selama kurang lebih tiga dekade mengabdi di ranah penanggulangan insiden kebakaran.

Dari catatan historis keprofesionalannya, dinamika lonjakan frekuensi peristiwa kebakaran menunjukkan grafik peningkatan yang sangat signifikan di kala kebijakan pemadaman bergilir tengah diberlakukan oleh pihak otoritas penyedia energi.

“Kalau sering terjadi pemadaman bergilir seperti sekarang ini memang dampaknya ada. Sekarang hampir setiap hari ada kebakaran. Coba pada kondisi normal, tidak seperti ini,” papar Eddy mengutip detikKalimantan, Rabu (8/7/2026).

Menurut Eddy, fluktuasi arus listrik yang terputus dan terhubung kembali secara repetitif, terutama ketika dibarengi dengan tekanan suhu udara yang ekstrem atau cuaca panas, menempatkan beban berat pada sistem kelistrikan.

Kondisi ekstrem ini sangat rentan memicu kerusakan struktural dan kegagalan fungsi fatal pada jaringan instalasi elektrik internal rumah tangga, dengan tingkat kerentanan tertinggi ditemukan pada bangunan yang masih mengandalkan instalasi kabel generasi lama.

“Kalau kondisi hidup-mati listrik terus menerus, apalagi cuaca panas, potensi kebakaran memang meningkat. Ini berdasarkan pengalaman saya selama puluhan tahun sebagai petugas pemadam kebakaran,” tutur Eddy dengan nada penuh peringatan.

Kendati demikian, pengamat senior penanggulangan kebakaran ini memberikan catatan garis bawah bahwa skenario penghentian pasokan daya secara periodik bukanlah faktor tunggal yang berdiri sendiri dalam memicu bencana.

Inti permasalahan yang sebenarnya kerap kali berakar pada ketidaksesuaian kapasitas dan kualitas instalasi listrik domestik terhadap akumulasi beban penggunaan alat-alat elektronik modern yang kian meningkat.

“Rumah-rumah sekarang sudah banyak tambahan AC, kulkas, kipas angin, bahkan ruangan bertambah, tetapi instalasi listriknya tidak pernah diperbarui. Kabel sudah tua, sambungan longgar, lalu ada material yang mudah terbakar. Sedikit percikan saja bisa menimbulkan api,” jelasnya secara rinci.

Atas dasar pemikiran tersebut, pihak Forkom Damkar Swasta Kalbar melayangkan imbauan tegas kepada seluruh lapisan masyarakat untuk segera melakukan pemeriksaan mandiri dan mengevaluasi kelayakan teknis jaringan listrik di kediaman masing-masing.

Terutama bagi bangunan-bangunan yang sirkuit listriknya telah beroperasi selama bertahun-tahun tanpa pernah mendapatkan pemeliharaan ataupun peremajaan total.

Sebagai informasi faktual pendukung, dalam kurun waktu dua hari terakhir saja, sekurangnya ada tiga insiden kebakaran yang berkecamuk di wilayah Kota Pontianak:

Insiden Pemukiman Pontianak Utara (Sabtu, 4/7): Sebuah bangunan rumah tinggal yang berlokasi di kawasan Jalan Selat Panjang Gang Samiken, Kecamatan Pontianak Utara, hangus dilalap api saat ditinggal dalam keadaan kosong tanpa penghuni. Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara dan keterangan dari otoritas kepolisian setempat, muasal api diduga kuat bersumber dari malafungsi korsleting listrik. Beruntung, tidak ada korban jiwa yang jatuh dalam musibah ini, sementara estimasi nilai kerugian materiil masih dalam proses pendataan intensif.

Kebakaran Industri Rumahan (Sabtu, 4/7): Pada hari yang sama, sebuah fasilitas home industri pembuatan tahu yang terletak di Jalan Parit Pangeran Gang Selamat I, Pontianak Utara, turut menjadi korban amukan api. Berdasarkan kesaksian pemilik usaha, aktivitas pemrosesan produksi sebenarnya sengaja dihentikan akibat dampak langsung dari tingginya intensitas pemadaman bergilir yang terjadi belakangan ini. Namun, saksi mata di lapangan melaporkan bahwa kobaran api mendadak muncul ke permukaan sesaat setelah aliran listrik kembali dialirkan ke wilayah tersebut. Kepolisian masih melakukan penyelidikan mendalam, walau indikasi awal tetap mengarah kuat pada kegagalan arus pendek.

Kebakaran Rumah Kopel Pontianak Barat (Minggu, 5/7): Satu hari berselang, musibah serupa melanda pemukiman di Gang Tengah, Kelurahan Sei Beliung, Kecamatan Pontianak Barat. Dua unit rumah dengan model kopel yang sebagian besar komponen arsitekturnya didominasi oleh material kayu dan triplek ringkas, ludes terbakar tanpa sisa. Keterangan para saksi menyebutkan bahwa titik api pertama kali terdeteksi merayap dari bagian dinding pembatas kamar yang menghubungkan kedua struktur bangunan tersebut. Tidak dilaporkan adanya korban jiwa, dan penyebab definitif dari bencana ini masih diselidiki secara mendalam oleh pihak kepolisian.

Menutup pernyataan resminya, Eddy menaruh harapan besar agar warga dapat melipatgandakan level kewaspadaan dan kehati-hatian mereka sepanjang masa rentan di mana program kebijakan pemadaman bergilir masih berlangsung.

Langkah-langkah preventif seperti memastikan kelayakan peralatan elektronik yang digunakan, memeriksa kerapatan sambungan kabel, serta mengamankan sirkuit instalasi di rumah wajib diprioritaskan guna memperkecil risiko bahaya kebakaran serendah mungkin.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Analisa | Local | Menit Info | |