Semangat Khairul Fahmi: Dari Langkah Kaki Menuju Kayuhan Sepeda untuk Meraih Impian

10 hours ago 8
Khairul Fahmi Koramil Sungai Sembilan

Menit.co.id – Di usia sepuluh tahun, ketika kebanyakan anak-anak seusianya bangun pagi dengan ceria menanti antaran kendaraan orang tua atau sekolah, nasib lain dialami oleh seorang bocah di Kelurahan Basilam Baru, Kecamatan Sungai Sembilan, Kota Dumai.

Ia bernama Khairul Fahmi, murid kelas lima SD Negeri 02 yang setiap harinya harus memutar otak bukan hanya soal pelajaran matematika atau bahasa Indonesia, tetapi juga bagaimana cara menempuh perjalanan tiga kilometer dengan kondisi jalan yang jauh dari kata layak.

Perjalanan Berliku Pagi Hari

Fajar menyingsing di ufuk timur Dumai, langit masih berwarna keabu-abuan ketika jam weker di kamarnya berbunyi. Waktu menunjukkan pukul lima lebih—waktu yang harus ia manfaatkan maksimal jika tidak ingin terlambat tiba di sekolah. Sementara teman-temannya mungkin masih bergumul dengan selimut tebal, Khairul Fahmi sudah harus bersiap-siap mengenakan seragam putih-merah, merapikan tas ransel yang sudah lapuk di beberapa sisi, dan melangkah keluar rumah.

Perjalanan dimulai dari Jalan Purwosalim, gang sempit yang menjadi tempat tinggalnya bersama keluarga. Kaki-kaki kecilnya harus piawai menapaki berbagai medan: mulai dari paving block yang sudah banyak yang copot, lubang-lubang besar yang tersembunyi di balik genangan air, hingga tanah liat yang lengket saat musim hujan tiba. Tiga kilometer bukanlah jarak dekat bagi anak berusia satu dekade—terlebih lagi harus ditempuh dengan berjalan kaki pulang-pergi.

“Kalau hujan, jalannya jadi becek banget, Kak. Kadang sepatu saya masuk lumpur sampai pergelangan kaki,” cerita Khairul suatu ketika kepada tetangganya yang prihatin melihat kondisi tersebut.

Kisah perjuangan si kecil ini akhirnya tersebar dari mulut ke mulut, hingga sampai ke telinga para prajurit TNI yang bertugas di Kodim 0320/Dumai. Rasa kemanusiaan dan empati pun muncul di hati Komandan Kodim (Dandim) 0320/Dumai, Letkol Arm Herman Santoso, yang kemudian memutuskan untuk memberikan bantuan nyata berupa satu unit sepeda dayung.

Hadiah yang Mengubah Segalanya

Jumat, 11 April 2026, menjadi hari yang tak akan pernah dilupakan dalam hidup Khairul Fahmi. Pagi itu, sebuah kendaraan dinas TNI berhenti di depan rumahnya. Turunlah Komandan Koramil (Danramil) 03/Sungai Sembilan, Kapten Inf Hendra Darma, membawa sesuatu yang dibungkus plastik bening—sebuah sepeda baru dengan warna cerah yang mencolok.

Wajah Khairul yang semula biasa saja langsung berubah. Matanya membelalak, bibirnya sedikit terbuka, dan dalam hitungan detik senyum lebar menghiasi wajahnya. Ia tidak bisa percaya bahwa impiannya memiliki sepeda akhirnya menjadi nyata.

“Saya sangat senang karena sekarang bisa berangkat ke sekolah dengan bersepeda. Ini menjadi semangat baru bagi saya untuk terus rajin belajar. Saya ucapkan terima kasih banyak kepada Pak Dandim,” ucap Khairul dengan suara bergetar menahan haru, seperti dikutip dari keterangan tertulis Kapten Inf Hendra Darma yang diterima, Minggu (12/4/2026).

Kapten Inf Hendra Darma menjelaskan bahwa pemberian sepeda ini merupakan wujud kepedulian institusi TNI terhadap pendidikan generasi penerus bangsa. Menurutnya, tidak seharusnya ada anak Indonesia yang putus asa atau malas sekolah hanya karena keterbatasan akses transportasi.

“Khairul selama ini setiap hari jalan kaki pergi sekolah. Jarak rumah dari sekolah sekitar 3 kilometer. Dengan adanya sepeda ini, kami berharap ia bisa menempuh perjalanan lebih cepat, sekaligus menambah semangatnya dalam menuntut ilmu,” jelas Hendra.

Makna di Balik Dua Roda

Bagi orang awam, sepeda mungkin hanya sekadar alat transportasi biasa—dua roda, setang, sadel, dan pedal. Namun bagi Khairul Fahmi, sepeda tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ia adalah simbol bahwa ada orang-orang baik yang peduli, bahwa perjuangannya tidak sia-sia, dan bahwa masyarakat serta aparat keamanan hadir sebagai pelindung rakyat kecil.

Sekarang, setiap pagi, bunyi rantai sepeda yang berderit halus menggantikan suara tapak kaki yang menapaki aspal rusak. Waktu tempuh yang semula memakan waktu hampir satu jam kini bisa dipangkas menjadi kurang dari dua puluh menit. Khairul pun memiliki lebih banyak waktu untuk beristirahat, mengerjakan PR, atau bahkan membantu orang tuanya sebelum berangkat sekolah.

Kisah inspiratif ini juga menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di sudut-sudut negeri ini, masih banyak anak-anak hebat yang berjuang keras demi masa depan mereka. Mereka tidak meminta simpati, mereka hanya butuh kesempatan—dan kadang, kesempatan itu datang dari tangan-tangan yang tergerak untuk berbagi kebaikan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Analisa | Local | Menit Info | |