Ketegangan Energi Meningkat: Iran Bersiap Balas Serangan Udara Israel

11 hours ago 3
Iran Bersiap Balas Serangan Udara Israel

Menit.co.id – Ketegangan geopolitik di Iran kembali memuncak setelah serangan udara oleh militer Israel menghantam sejumlah fasilitas energi penting di sekitar ibu kota Teheran.

Insiden ini memicu peringatan keras dari Iran mengenai kemungkinan serangan balasan terhadap infrastruktur minyak di kawasan Teluk, sekaligus menimbulkan kekhawatiran terhadap gangguan besar pada pasar energi global.

Laporan dari The Guardian menyebutkan bahwa militer Israel menargetkan setidaknya lima lokasi strategis energi di sekitar Teheran pada Minggu lalu. Ledakan besar menghasilkan kepulan asap hitam yang membubung tinggi di langit ibu kota.

Perusahaan distribusi minyak Iran mengonfirmasi empat pekerja tewas akibat serangan di fasilitas penyimpanan bahan bakar. Suara ledakan bahkan terdengar hingga kota Karaj, yang berada tak jauh dari Teheran.

Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menegaskan bahwa Iran akan membalas jika serangan terhadap fasilitas energinya tidak dihentikan.

“Jika dunia siap menanggung harga minyak lebih dari US$200 per barel (sekitar Rp3,1 juta), lanjutkan saja,” peringatan yang dikutip dari media pemerintah Iran, Senin (9/3/2026).

Kekhawatiran pasar energi global meningkat, mengingat Iran menyumbang sekitar 4% produksi minyak dunia, dengan sebagian besar ekspornya dikirim ke China. Ancaman balasan Iran dianggap dapat memperburuk ketidakstabilan harga minyak global.

Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat mencoba meredakan kecemasan pasar energi. Menteri Energi AS, Chris Wright, menekankan bahwa Washington tidak berniat menargetkan fasilitas energi Iran.

“Serangan terhadap fasilitas minyak Iran dilakukan oleh Israel. Amerika Serikat tidak akan menyerang infrastruktur energi Iran,” jelas Wright kepada CNN International.

Wright memprediksi gangguan pasokan energi global akibat insiden ini hanya bersifat sementara. “Gangguan terhadap pasokan minyak dan gas kemungkinan hanya berlangsung singkat, maksimal beberapa minggu,” tambahnya.

Di tengah ketegangan yang meningkat, dinamika politik di Iran juga mengalami perubahan signifikan. Para ulama yang memiliki hak menentukan pemimpin tertinggi Iran mengumumkan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru, menggantikan ayahnya, Ali Khamenei.

Menurut pernyataan resmi yang disiarkan media pemerintah, keputusan diambil melalui “pemungutan suara yang menentukan,” sekaligus menyerukan persatuan seluruh rakyat Iran untuk mendukung kepemimpinan baru.

Pengangkatan Mojtaba Khamenei menandai momen bersejarah karena merupakan pertama kalinya sejak Revolusi Iran posisi pemimpin tertinggi berpindah dari ayah ke anak.

Namun langkah ini berpotensi memicu ketegangan baru dengan tokoh politik luar negeri seperti Donald Trump, yang sebelumnya menolak menerima hasil tersebut. Trump memperingatkan bahwa pemimpin tertinggi baru Iran “tidak akan bertahan lama” jika Teheran tidak mendapatkan persetujuannya terlebih dahulu.

Sumber: CNBC Indonesia

Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Analisa | Local | Menit Info | |