Menit.co.id – Pemerintah Korea Selatan telah resmi meluncurkan paket reformasi kebijakan yang masif untuk sektor pariwisata, termasuk rencana pemberian fasilitas bebas visa bagi wisatawan Indonesia.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi ambisius Seoul untuk menarik sebanyak 30 juta wisatawan asing dalam beberapa tahun mendatang, sekaligus menjadikan wisata Korea Selatan kian diminati dan mudah diakses oleh para pelancong global.
Kebijakan strategis tersebut diumumkan selama berlangsungnya Rapat Strategi Pariwisata Nasional ke-11, yang dipimpin langsung oleh Presiden Lee Jae Myung.
Acara penting tersebut turut dihadiri oleh Perdana Menteri Kim Min-seok serta berbagai perwakilan dari 15 kementerian terkait dan para pemain utama industri pariwisata lokal.
Melansir laporan Korea Times pada Kamis (26/2/2026), dalam skema uji coba yang diusulkan, turis asal Indonesia yang datang dalam rombongan minimal tiga orang akan berhak mendapatkan fasilitas bebas visa.
Di samping itu, warga negara China dan kawasan Asia Tenggara yang memiliki riwayat kunjungan ke Korea sebelumnya akan memenuhi syarat untuk mendapatkan visa multiple-entry dengan masa berlaku lima tahun.
Bagi penduduk yang bermukim di kota-kota besar di negara-negara tersebut, mereka bahkan berpotensi mengajukan visa dengan jangka waktu 10 tahun.
Tidak berhenti di situ, sistem gerbang imigrasi otomatis di bandara yang sebelumnya eksklusif bagi 18 negara seperti Jepang dan Australia, kini akan diperluas aksesnya kepada seluruh warga negara Uni Eropa.
Sepanjang tahun 2025 lalu, Korea Selatan berhasil mencatatkan pencapaian lebih dari 18 juta kunjungan wisatawan asing, berhasil melampaui angka era pra-pandemi yang berkisar di angka 17 juta. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan sekitar 15% jika dibandingkan dengan performa tahun 2024.
Meskipun demikian, capaian tersebut masih tertinggal cukup jauh bila dibandingkan dengan Jepang yang sukses mencetak rekor 43 juta kunjungan pada periode yang sama.
Tingginya angka kunjungan ke Jepang salah satunya dipicu oleh pelemahan nilai tukar yen yang membuat biaya wisata di sana menjadi lebih kompetitif di mata wisatawan internasional.
Menteri Kebudayaan Chae Hwi-young mengistilahkan momentum global K-pop, K-drama, dan ekspor budaya Korea sebagai masa keemasan bagi industri pariwisata domestik. Oleh karena itu, pemerintah meluncurkan inisiatif bertajuk “K-Tourism Embraces the World” untuk memaksimalkan peluang yang ada secara optimal.
Strategi baru ini juga bertujuan untuk mengurangi konsentrasi wisatawan yang terlalu berpusat di Seoul. Pemerintah berkomitmen menambah rute penerbangan internasional langsung menuju bandara-bandara regional dengan cara memberikan insentif biaya serta hak lalu lintas udara khusus kepada maskapai penerbangan.
Penerbangan domestik yang menghubungkan Incheon dengan bandara-bandara daerah akan diperbanyak frekuensinya.
Layanan bus bandara malam hari yang dulu terbatas pada 13 rute di wilayah Seoul akan diperluas jangkauannya hingga ke Provinsi Chungcheong dan Gangwon. Selain itu, tiket kereta cepat KTX pun akan dapat dipesan lebih awal dari batas satu bulan yang berlaku saat ini.
Isu mengenai praktik harga tidak wajar yang sering menimpa turis juga menjadi sorotan serius. Pemerintah menerapkan kebijakan tanpa toleransi atau zero tolerance bagi pelaku usaha yang tidak mencantumkan harga atau melanggar tarif yang sudah tertera di awal.
Sistem pelaporan mandiri harga akan segera diberlakukan untuk sektor akomodasi, termasuk kewajiban mendaftarkan tarif musiman sebelumnya.
Perusahaan rental mobil di Pulau Jeju akan dikenai batas kenaikan harga selama musim puncak, dan hotel yang membatalkan reservasi tanpa alasan yang jelas juga akan menerima sanksi tegas.
Selain itu, pemerintah berencana mengesahkan Undang-Undang Promosi Akomodasi serta mengembangkan model penginapan premium bergaya “parador” seperti di Spanyol. Rencananya, hanok tradisional, kuil, dan desa rakyat akan ditransformasi menjadi destinasi menginap kelas atas yang menawarkan pengalaman unik.
Presiden Lee menegaskan bahwa pariwisata harus dipandang sebagai industri strategis nasional, bukan sekadar menjual produk perjalanan semata.
Menurutnya, sektor ini harus mampu menciptakan kenangan berharga bagi wisatawan sekaligus mengubah para penggemar K-culture menjadi kunjungan nyata ke Korea.
Pemerintah juga menyiapkan kampanye ‘Visit Korea Year’ untuk periode 2027-2029, dengan fokus pada wisata berbasis gaya hidup seperti jalur K-beauty, tur kuliner K-food, hingga pengalaman hiking ala Korea. Upaya pelonggaran aturan masuk seperti kebijakan bebas visa diharapkan dapat memperkuat daya tarik kampanye tersebut ke depannya.
Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi. Bila ingin mengutip silahkan menggunakan link aktif mengarah pada domain Menit.co.id.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

19 hours ago
6

















































